PROBLEMATIKA
ANAK DI SEKOLAH DASAR
SUKA BERKATA KASAR
A.
PENGANTAR
1.
Jenis
Masalah
Anak
usia SD yaitu usia 7-12 tahun memiliki sifat pembosan, suka meniru, selalu
ingin tahu, dan selalu ingin bergerak. Pada anak usia 6-10 tahun memiliki otak
seperti spons yang menyerap apapun. Akibatnya, jika anak mendengar hal positif
maupun negatif, dia akan mudah menirunya. Meski sebagian dari kata tersebut
mungkin belum di pahami artinya. Mengucapkan kata-kata yang kotor merupakan
sesuatu yang tidak baik dan sering menimbulkan sejumlah persoalan yang mengarah
ke hal negatif. Ketika anak sudah bermulut kotor, berkata-kata kasar, maka
dikhawatirkan kelak akan tumbuh jadi masyarakat yang sangar lagi kasar serta
bermulut jorok.
Anak
suka berkata kasar termasuk kedalam masalah moral, psikologis, dan sosial.
Manakala kata-kata negatif itu ditujukan
kepada diri sendiri, mka akan merusak moral dan psikologisnya. Ia dapat
menjadi sosok yang tidak percaya diri, emosional, tidak bersemangat tertutup, tidak
memiliki keyakinan untuk melakukan sesuatu, dan akhirnya menyulitkan untuk
berkembang. Selain itu anak juga mengalami masalah sosial. Biasanya mereka
mengucapkan kata-kata ini ketika jauh dari pengawasan orang tua dan gurunya,
sedang bergerombol dengan rekan sebaya, kemudian saling menyapa rekannya dengan
bertukar kalimat kotor tersebut.
2.
Karakteristik
atau gejala masalah
a.
Suka
mengucapkan kata-kata yang tidak baik, mengucapkan kata-kata kasar dan sumpah
serapah, membawa-bawa nama hewan peliharaan, satwa kebun binatang, kotoran,
bahkan hingga ke bagian-bagian sensitif dari aurat manusia, juga istilah
hubungan badan dengan berbagai variasi kosa-kata dan bahasa;
b.
Suka
bergerombol dengan dengan teman sebaya yang dianggapnya menjadi penguat dan
pendukung dirinya;
c.
Emosional
dalam menanggapi perkataan atau perbuatan yang dilakukan oleh orang lain
sehingga cenderung menjadi pribadi yang lebih tertutup;
d.
Tidak
bersemangat dan tidak memiliki motivasi untuk belajar.
3.
Faktor-faktor
penyebab Anak suka berkata kotor
a.
Faktor
internal
1.
Keinginan
untuk mendapat perhatian
Ketika
anak melontarkan kata-kata kotor, anak segera mendapat perhatian dari orang tua
maupun orang dewasa lainnya, sekalipun perhatian itu berbentuk teguran atau
amarah.
2.
Perasaan
senan setelah mengejutkan orang lain
Ada
perasaan senang yang dialami anak saat berhasil mengejutkan orang lain. Ketika
anak bisa membuat orng dewasa shock, seketika ia merasa mengungguli orang
dewasa tersebut.
3.
Keinginan
melepaskan emosi, marah, dan kecewa
Anak
mungkin menggunakan kata-kata kotor itu untuk mengekspresikan perasaan marah,
kesal, atau kecewa kepada orang lain.
4.
Keinginan
memberontak
Anak
mempunyai suatu perasaan bermusuhan terhadap orang dewasa. Selama ini ia
mungkin merasa terlalu ditekan, dibatasi atau mungkin merasa diperlakukan
dengan kasar, akibatnya ia jadi berkeinginan untuk memberontak dan agresif
melawan orang dewasa.
b.
Faktor
eksternal
1.
Keluarga
Keluarga
sebagai lingkungan terdekat mempunyai pengaruh paling besar dalam pembentukan
perilaku. Terkadang secara tidak sadar, ada pengucapan kata-kata ‘kotor’
terlontar dari anggota keluarga lainnya yang terdengar oleh si kecil, dan di
tiru olehnya. Kondisi keluarga yang kurang kondusif juga menekan anak untuk
berkata kotor.
2.
Lingkungan
Menurut
teori Erikson, anak-anak usia sekolah, tepatnya usia 6 sampai 12 tahun melihat
apa yang dituntut oleh lingkungan, terutama dalam konteks sekolah dan sosial
pertemanan. Mereka perlu mengatasi tuntutan tersebut dengan belajar lewat
interaksi yang di alami di lingkungan, termasuk keluarga, sekolah, serta pertemanan.
Jika orang-orang sekitar yang ditemui anak sehari-hari adalah orang yang tak
mengendalikan diri saat marah sehingga suka memaki-maki dengan kata kotor, anak
tidak belajar mengembangkan pengendalian diri yang baik, akhirnya anak pun
menjadi pribadi yang sulit untuk mengendalikan diri untuk tidak berkata kotor
saat marah. Perilaku berkata kotor ini menjadi berkembang ketika lingkungan
pergaulan memberikan dukungan, dan dengan melakukan perilaku berbicara ‘kotor’
tersebut mereka merasa berarti, mendapat pengakuan dari teman-temannya.
3.
Hiburan
dan Tayangan Televisi
Salah
satu hiburan yang sering di akses anak biasanya ialah tayangan televisi.
Melalui kotak elektronik ini anak bisa mendapatkan dan meniru aneka kosakata
serta tingkah laku, termasuk yang negatif .
Maraknya tayangan yang menyampaikan kata-kata vulgar berbau umpatan tentu saja
meresahkan orangtua yang memiliki anak. Sekarang ini, bahkan acara televisi
yang dikhususkan untuk anak-anakpun, terkadang menyajikan tayangan yang
didalamnya berisi kata-kata kurang pantas untuk telinga anak. Selain itu lagu
yang memiliki lirik kurang pantas untuk dinyanyikan anak, aneka buku bacaan
baik cerita ataupun komik, serta video game juga mempunyai potensi pembawa
pengaruh buruk.
B.
Solusi Pemecahan Masalah
1.
Peka
terhadap Kondisi Anak
Artinya, memahami apa yang menyebabkan
anak mengucapkan kata-kata kasar, pada situasi seperti apa anak
mengungkapkannya, apakah anak sedang merasa lelah/ marah/ kesal/ lainnya. Jika
anak mengucapkan kata kotor ketika ia sedang marah/ kesal orangtua dapat
mengajarkan cara yang lebih positif untuk mengungkapkan marahnya, misalnya
dengan mengganti kata kasar tersebut dengan kata lain seperti “aku marah/ aku
tidak suka/ aku kesal”. Jika anak mengungkapkan kata kasar ketika sedang lelah,
tunjukkan empati dan alihkan anak untuk segera beristirahat. Mendiskusikan
mengenai kata-kata kasar yang diucapkannya setelah anak berada dalam kondisi
tenang.
2.
Mengembangkan
Komunikasi yang Positif dalam Keseharian
Dengan mengucapkan kata-kata positif
dalam komunikasi sehari-hari dan mengajarkan anak mengungkapkan isi pikiran
maupun perasaannya dengan kata positif. Selain itu, Hindari mengucapkan kata
kasar/mengumpat/mengejek di hadapan anak.
3.
Kegiatan bercerita (membaca buku
cerita/mendongeng) yang sarat akan pesan moral juga dapat dijadikan salah satu
cara untuk mengurangi tingkah laku berkata kasar. Pilih cerita yang relevan
dengan tingkah laku anak, tanpa perlu mengaitkan cerita tersebut dengan anak
misalnya dengan mengatakan “Ini kan sama seperti kamu, suka bicara kasar” Hal
tersebut justru akan membuat anak tidak bersemangat untuk mendengarkannya.
Serta mengawasi kegiatan menonton TV/ CD/ sejenis.
4.
Menjelaskan Arti
Katanya
Menanyakan pada anak apa maksudnya
mengucapkan kata tersebut. Mungkin ia tak bisa menjelaskannya. Artinya ia
memang tidak paham apa arti kata kasar dan jorok tersebut, dan belum sadar
kalau kata-kata itu dapat menyakiti orang lain. Tugas guru dan orangtua adalah
menggali pemahaman anak mengenai kata tersebut dan mencari tahu alasan ia
melontarkannya, lalu meluruskan perilaku yang tak pantas tersebut. Jangan mudah
menyerah jika anak sudah dinasihati, namun tetap mengulang kata-kata tak pantas
itu. Tugas orangtua adalah membimbing dan mengarahkan buah hati secara terus
menerus.
5.
Membuat
Kesepakatan
Bila anak masih saja mengulangi kata
kasar dan kotor, meski sudah dinasihati berulang kali, buatlah kesepakatan.
Berikan hukuman yang disepakati bersama, namun jangan memberikan hukuman fisik.
Jika anak sudah lama terbiasa berbicara kotor, sukar baginya untuk langsung
berhenti total menggunakan kata-kata kotor tersebut. Dalam keadaan ini, lebih
baik guru orangtua mengadakan perjanjian dengan anak, yaitu bahwa jika dalam
waktu yang ditentukan anak tidak berbicara kotor, anak mendapat poin, poin yang
terkumpul kemudian ditukar dengan hadiah bila jumlahnya mencapai target.
6.
Jeli Mencari Penyebabnya.
Guru dan orang tua harus jeli mencari
penyebab anak makin senang menggunakan kata kasar dan jorok. Apakah tiap kali
ia berucap kata kasar, lalu ditertawakan oleh orang lain di rumah? Kalau memang
demikian, beri pengertian kepada seluruh anggota keluarga untuk tidak
memberikan respons positif bila anak melontarkan kata-kata yang kurang pantas.
Minta mereka untuk tidak menganggap lucu kata-kata itu. Tekankan, jika anak
mulai berkata kasar, jangan pedulikan, pura-pura tidak tahu. Umumnya anak akan
segera menghentikan kebiasaan buruknya karena ia tahu tidak sukses mendapat
perhatian dari perilaku tersebut.
7.
Mengajarkan Ekspresi Emosi yang Lebih
Tepat
Bila anak mengeluarkan kata-kata kotor
tiap kali ia marah, ajarkan cara mengekspresikan emosi yang lebih baik,
misalnya dengan berbicara asertif, yaitu menyampaikan kepada orang lain tentang
ketidaksetujuan kita terhadap perilakunya yang membuat kita merasa tidak
nyaman. Anak yang masih kecil biasanya kesulitan untuk merumuskan bagaimana
perasaannya, padahal mengenali perasaan beserta penyebab timbulnya perasaan
merupakan langkah untuk bisa mengelola emosi secara baik. Oleh karena itu,
ketika melihat anak sedang diluapi perasaan marah atau frustrasi, orangtua bisa
membantu membacakan perasaannya dan menjelaskan sebab timbulnya perasaan
tersebut.
C.
Pihak-pihak yang Terlibat
dalam Pemecahan Masalah
Untuk menangani masalah tersebut,
diperlukan kerjasama dari berbagai pihak yaitu:
1. Guru kelas tempat anak belajar perlu
menciptakan iklim belajar yang menyenangkan bagi semua murid sehi ngga
tidak ada yang merasa tidak dihargai dan tidak diperhatikan dalam kelas.
2. Teman-teman
belajar harus mengingatkan apabila anak tersebut mengucapkan kata-kata kotor.
3. Orang
tua harus memperhatikan, mengarahkan dan menasehati tingkah laku anak di rumah
berkaitan dengan tingkah lakunya di sekolah.
Kerjasama yang baik antara orang tua,
guru, teman-teman, dan lingkungan sekitar tentu akan membawa hasil yang optimal
terhadap perkembangan moral anak menjadi lebih baik lagi.
RSS Feed
Twitter
07.32
Abualfatih
0 komentar:
Posting Komentar